Selamat Datang di LPPL Radio Kanjuruhan FM Malang - Live Streaming

MALANGKAB.GO.ID

Jabung 21 April 2016, Pembinaan Institusi Masyarakat Kader PPKBD bertempat di Pendopo Kecamatan yang diikuti terdiri dari para kader PPKBD, Ketua TP. PKK Desa Se Kecamatan Jabung.

Pembangunan Program Keluarga Berencana (KB) yang telah dilaksanakan semenjak Tahun 1970-an, telah memberikan konstribusi positif bagi bangsa Indonesia. Program Keluarga Berencana sesungguhnya bukan bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk. Tujuan yang sebenarnya adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas sehingga bermanfaat bagi kesehatan Ibu dan Anak. Seiring dengan semangat Otonomi daerah, perkembangan program KB menjadi suatu dilema. Berbagai macam program yang selama ini dilakukan, semenjak otonomi daerah sulit untuk diwujudkan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya tenaga petugas lapangan. Oleh karena itu peran serta masyarakat dalam pengelolaan program KB diberikan kesempatan yang lebih luas melalui Lembaga Swadaya dan Organisasi Masyarakat sebagai pengelola dan pelaksana program. Sebagai upaya untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan program KB, telah dilakukan upaya berupa mereposisi peran petugas lapangan. Perubahan tersebut pada intinya menyangkut pergeseran peran PLKB yang selama ini bertindak sebagai manager dan pelaksana program ke arah peran yang lebih menonjolkan sebagai pemimpin dan pengarah program di lapangan. Dengan adanya pergeseran tugas tersebut berarti lebih memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pengelolaan program KB melalui Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP). Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan program KB, telah dilakukan berbagai upaya penumbuhan, pembinaan dan pengembangan IMP. Hal itu dilakukan sebagai wadah peran serta masyarakat sekaligus sebagai mitra petugas lapangan melalui pembentukan kelompok IMP di tingkat Desa, tingkat Dusun/RW serta tingkat RT. IMP di tingkat Desa dinamakan dengan Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), di tingkat Dusun/RW dinamakan Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (Sub PPKBD), dan di tingkat RT dinamakan dengan Kelompok Akseptor (KA). Perkembangan IMP yang ada di Kabupaten Siak cukup baik karena PPKBD sudah terbentuk ditiap Desa/Kelurahan. Namun bila ditelaah dari segi Klasifikasi, Institusi berada pada tingkat Dasar. Begitu juga halnya dengan Sub PPKBD sudah terbentuk sebanyak 56,98% dari jumlah RW yang ada di Kabupaten Siak, namun tingkat Klasifikasinya juga berada pada tingkat Dasar. Kelompok Akseptor baru terbentuk pada 4.04% dari jumlah RT yang ada, dengan tingkat klasifikasi Dasar. Keadaan seperti ini menunjukkan Motivasi Kader IMP rendah atau memang ada faktor lain yang mempengaruhinya, sehingga terjadi hal yang demikian.

 Pada kelompok Kader PPKBD, faktor yang mempunyai keterkaitan dengan Partisipasi adalah Status keluarga, pengalaman sebagai kader, persepsi dan intensitas penyuluhan. Pada kelompok Kader Sub PPKBD, faktor yang mempunyai keterkaitan dengan Partisipasi adalah persepsi dan intensitas penyuluhan, sedangkan pada kelompok Kader Kelompok Akseptor, faktor yang mempunyai keterkaitan dengan peningkatan Partisipasi adalah tingkat kebutuhan, persepsi dan intensitas penyuluhan. Hasil Uji Kruskall-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat motivasi dan partisipasi Kader IMP dalam pengelolaan program KB dan prasarana penyuluhan, menambah tenaga penyuluh lapangan KB, meringankan pembiayaan bagi kader dalam urusan pemerintahan dan Kesehatan dasar, melibatkan kader dalam bentuk usulan penyusunan program lapangan serta memberikan pendidikan dan pelatihan.

Who's Online

We have 21 guests and no members online

Visitors

347456
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
597
771
1368
339889
10330
25050
347456
Your IP: 54.82.79.109
2017-12-11 13:07