Surabaya (Antara Jatim) - Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Ibnu Isticha menegaskan bahwa saat ini ada lima korban tewas per hari akibat kecelakaan lalu lintas sehingga aparat kepolisian menggelar "Operasi Simpatik Semeru 2016" untuk menekan angka kematian itu.
"Secara kuantitas, angka kecelakaan itu meningkat karena pertumbuhan kendaraan tidak seimbang dengan infrastruktur jalan, namun kita berusaha menekan fatalitas kecelakaan yang menyebabkan korban tewas," katanya di Mapolda Jatim, Selasa.
Setelah Apel Gelar Pasukan "Operasi Simpatik Semeru 2016" yang dipimpin Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji itu, ia menjelaskan kecelakaan umumnya terjadi akibat kecepatan yang berlebihan dengan situasi jalanan dan pelanggaran marka jalan.
"Tapi, kita kedepankan langkah preemtif dan preventif karena kita tidak ingin korban tewas meningkat terus. Kalau kita bisa menekan hingga 10-20 persen itu sudah bagus. Kalau dibandingkan jumlah penduduk Jatim yang 38 juta memang tidak seberapa, tapi kalau sehari lima orang tewas, makan sebulan sudah 150 jiwa, apalagi setahun," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya mengerahkan 2.805 personel se-Jatim dengan 240 personel diantaranya dari Polda Jatim untuk menciptakan ketertiban berlalu lintas di jalan selama Operasi Simpatik Semeru 2016 pada 1-21 Maret 2016.
"Dalam operasi selama 21 hari itu, kami akan mengoptimalkan penerapan KTL atau kawasan tertib berlalu lintas guna mendorong ketertiban pada marka, rambu, parkir, dan menghormati pengguna jalan, sehingga kelancaran dan juga kesadaran di jalan," katanya.
Ditanya wilayah terbanyak dalam kecelakaan lalu lintas, ia menyebut kota besar seperti Surabaya dan Malang yang memiliki penduduk cukup tinggi dan volume kendaraan juga tinggi, namun terjadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan infrastruktur jalan dengan kendaraan.
"Surabaya saja membutuhkan tambahan jalan seluas 1.200 kilometer, karena itu perlu pemecahan bersama. Malang juga sama, karena setiap tahun ada 25.000 mahasiswa," katanya, didampingi Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono. (*)
Editor: Slamet Hadi Purnomo