Selamat Datang di LPPL Radio Kanjuruhan FM Malang - Live Streaming

MALANGTIMES - Empat hari lagi, semarak Gumebyar Pesona Wisata Gunung Kawi 2017 berlangsung. Ritual budaya tahunan yang digelar mulai 19-21 September 2017 tersebut bakal meriah. Apalagi, rangkaian acara dibuka lomba olahan ketela (telo) yang diikuti 33 kecamatan di wilayah Kabupaten Malang.

Acara dalam memperingati Suroan dan wafatnya Eyang Djugo (Kyai Zakaria) ke-151 dan haul RM Imam Soedjono ke-146 itu dipusatkan di Desa Wonisari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. "Acara lomba olahan ketela diikuti seluruh kecamatan di Kabuoaten Makang. Masing-masing kecamatan mengirimkan minimal dua peserta. Mereka beradu mengolah makanan telo," kata Kepala Desa Wonosari Kuswanto kepada MalangTIMES.

Teknis lomba olahan ketela ini, peserta dari 33 kecamatan bebas membuat kreasi dari makanan olahan ketela. Nanti kreasi makanan yang menjadi pemenang lomba akan dijadikan khas oleh-oleh khas masyarakat Gunung Kawi. Setelah itu, ada pameran produk unggulan warga dan pameran olahan ketela diiringi kesenian tradisional warga Gunung Kawi.

Kuswanto menjelaskan, omba olahan ketela diadakan karena Desa Wonosari memiliki potensi pangan yang melimpah. Salah satu unggulannya adalah ketela.

Ketela Desa Wonosari memiliki tekstur dan rasa yang berbeda dengan ketela lainnya. Warnyanya putih dan rasanya manis. Bentuknya agak lonjong. "Bahkan Disparbud ingin menjadikan ketela di sini sebagai produk olahan khas Gunung Kawi," ungkapnya.

Di samping itu, pada 20 September nanti diadakan lomba cipta tari khas Gunung Kawi yang pesertanya dari 33 kecamatan. Lomba ini digelar karena warga Gunung Kawi belum memiliki ciri khas tarian.

"Aturan lomba tari, peserta menampilkan tarian, baju adat, dan lagunya disertai deskripsinya seperti apa. Sekarang sudah banyak yang mengirim video tarian kepada panitia," kata Kuswanto.

Kemudian, pada 20 September ada kualifikasi menentukan lima tarian terbaik. Finalnya digelar pada puncak acara 21 September yang ada kirab budaya ritual Suroan itu.

"Nanti kirab budaya diikuti 14 RW setempat dan ritual arakan ogoh-ogoh yang berangkat dari Terminal Wonosari dan finis di pesarehan Gunung Kawi. Terakhir ada ritual pembakaran ogoh-ogoh sangkala (tokoh jahat) bertujuan agar bentuk kejahatan di Desa Wonosari hilang dan membawa keberkahan," ujar Kuswanto. (*)

Who's Online

We have 9 guests and no members online

Visitors

281677
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
92
1534
2659
275645
11812
22344
281677
Your IP: 34.207.98.73
2017-09-20 02:26
Visitors Counter