SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Perayaan Yadnya Kasada 2016 akan berbeda dengan perayaan sebelumnya. Perayaan hari besar suku Tengger Bromo itu digelar saat Gunung Bromo berstatus Waspada (Level II).
Bahkan sepekan terakhir, semburan asap Bromo mengganggu penerbangan di Malang. Bandara Abdulrachman Saleh yang berada di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang sempat buka tutup pekan kemarin.
Pihak pemangku wilayah yakni Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membuat sejumlah langkah pengamanan.
"Karena Kasada akan tetap digelar, itu merupakan hari besarnya orang Tengger dan sudah menjadi ritual di sana. Kami menghormati kearifan lokal itu. Tetapi langkah-langkah pengamanan kami lakukan karena kondisi Bromo saat ini," terang Kepala BB TNBTS John Kenedie dalam jumpa pers di Kantor BB TNBTS di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Senin (18/7/2016).
Pihak TNBTS mengacu kepada himbauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yakni batas aman dalam status ini adalah 1 KM dari puncak sekaligus Kawah Bromo. Mengacu batas aman itu berarti pengunjung tidak boleh naik ke tangga yang menuju kawah. Pengunjung Bromo hanya boleh sampai ke lautan pasir saja.
Namun kelonggaran akan diberikan kepada warga Tengger Bromo yang menggelar ritual Kasada. Mereka dibolehkan naik ke puncak. Sebab puncak ritual Kasada berupa pelemparan sesaji ke kawah Bromo.
Orang Tengger melempar sesaji berupa hasil bumi dan ternak ke dalam kawah. Hasil bumi itu biasanya ditata dalam sebuah 'ongkek'.
"Nantinya hanya pelempar sesaji yang boleh naik, artinya orang Tengger saja. Pengunjung tidak boleh," tegas John.
Karenanya, pihaknya menggandeng masyarakat setempat untuk memastikan bahwa yang naik ke kawah hanyalah warga Tengger, dan tidak ada pengunjung.
Petugas juga melarang warga turun ke kawah untuk menangkap sesaji. Menjadi pemandangan awam, warga setempat menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah. Mereka berdiri di tebing kawah. Kegiatan mereka selalu menjadi atraksi tersendiri, dan menjadi bidikan foto.
Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I TNBTS Sarmin memastikan warga dilarang turun ke kawah untuk menangkap sesaji yang dilempar.
"Kami larang. Selain itu, melihat kondisi tebing kawah sekarang, sepertinya tidak mungkin. Tebing kawah sekarang curam dan lurus, kalau dulu yang miring," ujar Sarmin.
Samin menambahkan, pihaknya juga memasang garis polisi di beberapa tempat. Pemasangan itu bekerja sama dengan kepolisian setempat. Garis polisi itu untuk menghalangi wisatawan naik ke puncak Bromo. Garis polisi juga dipasang di sekitar lokasi Seismograf.
Menurutnya, garis polisi yang baru dipasang akhir pekan lalu cukup efektif mengusir pengunjung dari puncak. Mereka merasa enggan naik, meskipun masih ada satu dua orang wisatawan yang nekat.
Selama libur Lebaran, meskipun Bromo berstatus Waspada dengan batas aman 1 KM dari kawah, ratusan wisatawan tetap naik ke puncak. Mereka berderet memenuhi bibir kawah, sementara asap tebal kelabu pekat menyembur dari kawah.