HUMAS-Keseriusan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang dalam membangkitkan budaya tradisional ditunjukkan dengan dilaunchingnya ekstra kulikuler permainan tradisional di sekolah-sekolah oleh Wakil Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, MM bersamaan dengan diselenggarakannya pagelaran seni dan budaya di panggung terbuka yang ada di sisi timur Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Kepanjen hari ini, Sabtu (27/2)
Wakil Bupati Malang menyambut baik hal ini, “Seperti halnya arahan Bupati, agar kebudayaan dan seni budaya Indonesia ini tidak luntur dengan masukknya seni dan budaya luar negeri.”
“Salah satu budaya kita yang patut kita pertahankan adalah gotong royong. Kebersamaan dalam budaya gotong royong ini dapat kita perkenalkan mulai dini melalui permainan tradisional. Banyak permainan tradisinal yang bisa dimainkan bersama-sama. Dalam permainan tradisional banyak nilai pertandingan menang atau kalah dan itu dilakukan oleh tim akan membentuk karakter nilai-nilai kebersamaan dalam menyelesaikan masalah.Ini mengajarkan anak-anak untuk bersama-sama, bergotong royong dalam menyelesaikan permasalahan/persoalan, “terang Wabup saat ditemui usia melaunching ekskul permainan tradisional di sekolah yang ditandai dengan pemukulan gong.
Selain itu Wabup menegaskan, bahwa pendidikan yang memadai bisa angkat derajat manusia. Bahkan, ia meyakini bahwa yang akan menjadi calon pemimpin masa depan adalah pemuda yang saat ini sedang mengenyam pendidikan. “Saya akan kawal membantu mewujudkan kemajuan pendidikan. Karena sudah menjadi prioritas program Bupati tahun ini. Selain pendidikan, juga kesehatan dan ekonomi,” janji Drs. Sanusi.
Lebih lanjut, “Pertama dengan slogan kita, disiplin awal dari kesuksesan. Maka itu yang akan saya lakukan pertama, utamanya untuk pelaksanaan pendidik harus tingkatkan kedisiplinan. Yang kedua, disiplin kerja, Yang ketiga disiplin anggaran, dan yang ke empat disiplin dalam mengelola kegiatan.”
Di bidang pendidikan sendiri menurut Wabup, sudah terjadwal semua, ada satuan pelajaran yang harus disampaikan. “Kalau disiplin maka akan bisa tersampaikan semua materi yang sudah ditetapkan. “Soal disiplin waktu, dalam mengajar ada waktu yang ditetapkan, dan itu harus dipatuhi. Diawali dari pendidik, disini pendidik tidak boleh terlambat. Karena guru itu digugu dan ditiru. Kalau guru disiplin, murid pasti disiplin. Tapi kalau guru terlambat, muridnya bisa lebih terlambat. Seperti halnya sebuah pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Murid bisa meniru lebih dari yang diperbuat guru. Baik jelek maupun baiknya,” tegasnya.
Disinggung soal pelaksanaan seni di sekolah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Ir. Budi Iswoyo, MM mengatakan bahwa nantinya kegiatan ini akan akan dilanjutkan kesekolah-sekolah sebagai ekskul wajib disamping pramuka. “Setelah sebelumnya kita susun formatnya, baik itu jenis keseniannya, juga waktu yang digunakan.”
Kebutuhan guru seni di Kabupaten Malang sendiri menurut Kadiknas bisa dibilang cukup, “Untuk SMP dan SMA/SMK memang ada guru kompetensi. Namun kalau di SD kan hanya guru kelas yang harus bisa semuanya dan S1 nya juga bukan seni. Jadi hanya perlu kita tingkatkan kompetensinya salah satunya melalui pelatihan-pelatihan. Dan baru-baru ini kita juga baru saja melatih 80 orang, untuk seni tari, seni rupa, dan seni musik,” jelas Budi Iswoyo.
Budi berharap, dengan masuknya seni dalam ekskul wajib sekolah, juga pagelaran seni semacam ini, akan mendorong kebangkitan seni dan budaya yang pernah dicanangkan di tahun 2014. Selain itu juga akan menjadi pendidikan karakter bagi anak-anak didik agar karakternya betul-betul mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Sekaligus untuk menyaring budaya asing yang masuk. “Apalagi sekarang kita sudah memasuki MEA, budaya asing banyak masuk ke negara kita baik itu melalui pertukaran tenaga kerja atau melalui cara-cara yang lain,” tambahnya. (ind)